Sabtu, 01 September 2012

AYAH, MENGAPA AKU BERBEDA? (Full movie)


Gw haruz bilang…
“WOW”  ƪ (◦˘ .̮ ˘◦)
Coz nich pelem bikin gw sesak napash tingkat tinggi, aer mata ngucur derez (˘̩̩̩̩ƪ)
pilek stadium 4 ( o. ˘)з┌◦◦◦heart
truz guling2 gk karuan,
 ~(˘.˘~) ~(˘.˘)~ (~˘.˘)~
pokoknya bener2 mantap gan!!! Belon nonton aje udah nangis duluan.... aer mata gw ngucur derez nich kaya’ aer terjun...
()....().....()
malah gw blon nyiapin ember ame panci lg, buat nampung nich aer...(hahahaha.....lebay) gimana ngga’....gw tuch tersandung, eh tersanjung bangets ama critanya yg sedihnya gk ktulungan bo’...hehe...cowry eaa gw agax lebay... ^_~


Pokoknya bwt bro n sis...cing2 n mpo2’ yg unyu2...smuanya dech, tonton aje nich pelem, klo’ gk sempet...nonton trailernye aje jg kga’ ape2 dah, actingnya jebo bangets, sumpe luwww.....nich pelem te-op-pe be-ge-te.....baguz bgttt dahhh.....bikin mewek, hikss :’( sedih critanya but bahagia endingnya...hehe...^_~ Nah! berikut ini ada potongan novelnya tp sygx masih bersambung....tp tenang, coz dibawahnya masih ada cerita yg beda postingan, tp isinya ttp sama....cekidot segera!!! :D

KELAHIRANKU
Saat aku terlahir di dunia ini, ayahku pernah bercerita kalau ia mendengar suara tangisku yang begitu kencang. Suster dan dokter yang ikut membantu proses kelahiranku begitu bingung karena tidak bisa membuatku terdiam. Mungkin, aku tidak pernah mengerti mengapa aku terus menangis dan tidak bisa dihentikan oleh siapapun selain saat suster kemudian meminta ayahku yang sedang berada diruang tunggu untuk melihatku.
Saat ayah menyentuh jari pertamanya pada wajahku yang lahir prematur, ia menangis dan aku yang awalnya menangis kencang terdiam. Ia langsung mengangkat tubuhku yang disambut sukacita oleh suster-suster yang sejak tadi pusing karena suara tangisku. Ayah mengendongku dengan lembut sambil berkata,
Mulai saat ini hanya kamulah yang paling berharga dalam hidup ayah..
Ya, aku adalah anak yang paling berharga baginya. Kelahiranku adalah sebuah dua sisi yang cukup membuat ayah begitu tertekan. Ibu mengalami pendarahan hebat dan hanya ada sedikit pilihan baginya. Aku yang mati atau ibu yang harus merelakan nyawanya. Tapi ibu memilih untuk melahirkanku kebanding harus mengarborsi bayi yang ada di kandungannya selama 7 bulan. Ia melupakan semua saran dokter demi aku. Sang janin kecil yang terus membuat nyawanya terancam.
Ayah mencintaiku dan juga ibuku. Tapi ia tidak ingin membuat ibu bersedih, disamping genggaman tangannya, ia melihat ibu menghembuskan nafas terakhirnya diikuti oleh suara tangisku yang terdengar memilukan. Oh Tuhan, aku tidak pernah mengerti mengapa aku adalah beban bagi hidup ibuku. Kalau saja aku mengerti aku hidup untuk menyusahkan ibuku, mungkin aku tidak akan memilih untuk terus hidup.
Tapi semua itu adalah rencana Tuhan yang tidak bisa dihindari. Seperti takdir yang mempertemukan ibu dan ayahku. Mereka menikah dan menjadi keluarga kecil bahagia. Harapan kedua orang tuaku hanya satu, ingin hidup bersama hingga waktu memisahkan mereka. Tapi perpisahan terjadi begitu singkat setelah pernikahan 2 tahun itu dan pertemuan kelahiran aku dan ayah adalah saat-saat terindah bagi ayah. Ayah yang juga menjadi ibu bagi diriku.
Suster kemudian bertanya kepada ayah ketika melihatku mulai terdiam.
Anak ini ingin diberikan nama apa pak? Tanya suster itu pada ayah.
Angel.. berikan nama dia Angel.. kata ayah.
Angel, nama yang ayah berikan kepadaku untuk mengenang ibu yang juga bernama Angel. Mereka memiliki rahasia mengapa aku diberikan nama itu dan aku hanya akan tau disaat usiaku nanti besar. Setelah aku tenang, ayah kembali memberikan aku kepada suster yang langsung memberikan aku perawatan intensif.
Karena aku lahir prematur, aku harus dirawat untuk waktu yang cukup lama hingga aku bisa keluar dari rumah sakit. Ayah yang bingung, kemudian meminta ibunya untuk membantu aku. Nenekku yang berasal dari Kota kemudian datang dan ikut bersama-sama dengan ayah untuk merawatku. Ayah belajar banyak untuk menjadi seorang ibu bagiku. Nenek dengan tekun melatihnya. Ia mengajarinya banyak hal dengan teliti.
Ayah belajar bagaimana untuk menganti popoku, bagaimana untuk membuatku mandi dengan benar lalu membuat susu yang baik bagiku. Karena tidak ada ASI dari ibu, ayah harus menambah beberapa vitamin tambahan yang diberikan dokter agar aku dapat tumbuh dengan sehat dan sempurna. Bersama kedua malaikat itu, aku pun tumbuh dengan berjalannya waktu. Mereka berdua bergantian menjagaku, bila ayah harus bekerja, nenek dengan siaga menjagaku begitu sebaliknya bila nenek sedang beristirahat, ayah akan menjagaku dengan sungguh-sungguh agar tidak menangis dan menganggu istirahat nenek.
Aku tidak tau betapa aku adalah bayi yang menyebalkan karena ayah bilang saat aku kecil, aku selalu buang air kecil setiap popok baru terpasang.Aku juga tidak pernah mau mendengarkan semua nyanyian yang ayah berikan padaku ketika ia membuatku mencoba tidur. Sampai akhirnya ketika usiaku menginjak 3 tahun. Ayah mulai merasa aneh dengan sikapku yang selalu tidak peduli terhadap panggilannya.
Ia memberikan aku banyak mainan boneka dan aku sangat suka bermain dengan boneka-boneka yang ayah bawakan setiap ia pulang kerja. Disaat aku bermain boneka, ayah memandangku. Sedangkan nenek sedang membuatku aku bubur untuk makan malamku.
Angel .. teriak ayah padaku yang sedang asyik bermain boneka sapi kartun lucu.
Ia kemudian mendekatiku, lalu membelakangi tubuhku, ia mengunakan dua tangannya diatas kepalaku. Sambil menepuk keduanya dengan kencang tepat di belakang kepalaku. Ayah melakukannya berulang-ulang hingga ia berhenti dan menarik nafas panjang. Nenek melihat tingkah ayah dan bertanya.
Sedang apa kamu Martin? nama ayahku.
Ibu, aku merasa Angel tidak bisa mendengar apa yang aku lakukan, bahkan ia tidak bisa merespon tepukan tangan tepat di belakangnya. Bila ia bisa mendengar.. harusnya ia akan terkejut..tapi ia diam saja.
Nenek meletakan bubur di mangkok tangannya diatas meja.
Ibu juga merasa ada yang tidak beres, bagaimana kalau kita coba bawa ke dokter. Mungkin mereka bisa menemukan jawabannya..
Baiklah bu. Aku akan mandi setelah ibu kita pergi..
Sesungguhnya perasaan cemas aku tidak bisa merespon dan mendengar apapun yang ayah perintahkan sudah sejak lama ayah simpan. Tapi ia mencoba berpikir positif hingga akhirnya hari ini ia benar-benar harus mencoba mencari tau apa yang terjadi padaku. Setelah aku menikmati semangkok bubur dan merasa kenyang aku tertidur dan ketika terbangun, aku sudah ada di rumah sakit dengan dokter yang sedang memeriksa telingaku dengan sentel kecil berwarna putih yang cukup aneh bagiku. Dokter perempuan itu tersenyum padaku lalu aku langsung diajak oleh nenekku untuk jalan-jalan disekitar ruangan rumah sakit.
Ayah berbicara dengan dokter Intan yang adalah spesialis telinga.
Bagaimana Dok, dengan kondisi Angel, mengapa dia tidak bisa merespon panggilan dan perintah?
Dengan sangat menyesal saya harus mengatakan kalau anak bapak adalah seorang tunarungu..
Tunarungu.. bagaimana bisa?
Melihat catatan kelahiran dan kesehatannya, anak bapak yang lahir secara prematur memiliki banyak hal yang bisa terjadi, tunarungu adalah salah satu yang bisa terjadi pada setiap anak-anak yang terlahir secara prematur.
Ayah terdiam.
Bapak tidak perlu bersedih ataupun panik, saat ini sudah banyak pendidikan dan orang yang hidup dengan kondisi yang sama dengan anak bapak tapi bisa memiliki masa depan yang baik. Bila sejak dini kita mendidik dan mengajarinya, kelak anak itu akan tumbuh seperti anak-anak normal lainnya..
Tapi keadaan ini sangat membuat saya sedih, kasihan anak itu, ia tidak menyadari keadaanya, apa yang harus saya lakukan untuk memberitahunya. Bagaimana caranya ia tau apa yang harus saya jelaskan sedangkan dia sendiri tidak bisa mendengar dan bahkan mengerti apa yang saya katakan.
Begini saja, saya memiliki seorang kenalan yang sudah berpengalaman untuk mendidik dan bagaimana caranya menjadi orang tua tunarungu, mungkin ia akan membantu bapak dalam masalah ini.
Dengan wajah sedih ayah menerima tawaran dokter itu pada kenalannya. Ia keluar dari ruangan dokter dan aku bersama nenek langsung mendekatinya. Nenek bertanya kepada ayah yang tampak murung.
Bagaimana hasilnya, Tin?
Angel positif tunarungu, Bu..
Nenek ingin menangis ketika mendengarkan kalimat itu keluar dari mulut ayah tapi ia tidak ingin membuat ayah lebih bersedih. Disaat seperti ini, hanya dialah orang yang bisa menghibur dan menguatkan hati ayah untuk terus bersemangat membesarkanku. Ayah memang bukanlah seorang ibu, tapi ia memiliki ibu yang berpengalaman merawatnya hingga besar seorang diri tanpa ayahnya. Kakek meninggal saat ayah berusia 3 tahun karena kecelakaan dan apa yang terjadi pada ayah saat ini, seperti halnya pernah terjadi pada nenek.
***
KISAH CINTA ORANGTUAKU
Mengapa aku terlahir cacat? Mungkin hanya Tuhan yang maha tau untuk menjawabnya. Bagaimanapun keadaanku dan apapun keadaanku. Inilah jalan yang harus aku jalanin.Ayah mungkin sejak awal sudah menyadari apa yang akan terjadi padaku ketika dulu sebelum aku terlahir ia mendapatkan peringatan keras dari dokter untuk melarang kelahiranku. Tapi ia juga paham, ibu yang berhati mulia seperti istrinya tidak akan pernah tega melakukan apayang dokter sarankan walau kematian adalah ancaman terbesar baginya.
Ibu dan ayah, sejak dulu memang sudah harus melalui penderitaan cinta untuk bersatu. Ibuku tiga tahun lebih tua dari ayah, ia adalah seorang putri dari orang tua yang sukses dan kaya.Ayahku hanya seorang anak yang terlahir dari ibu tunggal yang bekerja sebagai pembuat kue. Mereka dipertemukan oleh sebuah takdir disaat ayah yang mendapatkan beasiswa belajar musik di sekolah belajar musik terkenal karena melihat bakat ayah yang cukup tinggi bermain piano. Sedangkan ibu adalah seorang senior di sekolah musik itu.
Ibu terkesan dengan ayah yang begitu mahir bermain piano. Ia secara tak sengaja mendengar permainan piano ayah saat hendak ingin masuk ke kelasnya. Bukannya masuk ke kelasnya sendiri ia malah terduduk di kursi kelas ayah. Saat ayah selesai bermain piano, ibu memberikan tepuk tangan meriah pada ayah. Ayah yang saat itu berusia 14 tahun hanya tersipu malu melihat ibu yang cantik memuji permainannya. Sejak saat itu mereka pun berkenalan dengan malu-malu ayah mengenalkan dirinya pada ibu yang sudah menjadi gadis remaja dewasa karena 3 tahun lebih tua darinya.
Angel.. kata ibu sambil pergi meninggalkan ayah.
Ayah mungkin melihat ibu sebagai cinta monyet pertamanya tapi ketika ia mulai mencoba mencari tau tentang ibu, hatinya langsung ciut ketika melihat ibu setiap hari pulang pergi ke tempat sekolah musik dengan supir dan mobil mewah. Ia tidak punya nyari mendekati ibu dengan hanya bermodalkan sepeda butut peninggalan ayahnya. Dan ia pun tidak pernah mencoba untuk mendekati ibu karena ia sudah sadar sejak awal, gadis secantik ibu hanya ada dalam dongeng mimpi bila mau padanya.
Beberapa waktu kemudian, tanpa sengaja ayah melihat ibu yang menangis di tangga sekolah musik. Saat itu ia hendak naik ke lantai atas dan berpas-pasan dengan ibu yang menangis. Ayah mencoba lewat dan ibu memintanya berhenti sambil berkata.
Memangnya kamu tidak bisa apa menghibur seorang gadis yang menangis, jangan hanya Cuma lewat dan diam saja dong.. kata ibu.
Maaf, aku takut membuatmu marah, karena itu tidak ingin mengganggumu..
Kan kami bisa Tanya kenapa aku nangis? Gimana sih.. pinta ibudan ayah hanya bingung.
Tuh kan bingung, ayo Tanya kepada aku nangis?? teriak ibu dan ayah mengikuti dengan gugup.
Kenapa kamu menangis Angel..
Ketika mendengarkan pertanyaan itu ibu malah berteriak semakin kencang dan menangis, banyak orang yang mendengar tangisan ibu langsung mendekat dan berpikir bahwa ayah membuat ibu menangis. Ayah yang tampak bodoh disudutkan dengan kondisi itu apalagi supir ibu langsung membawa ibu pergi begitu saja. Sejak saat itu ayah merasa menjadi terdakwa dan memutuskan untuk tidak sekolah musik lagi karena tidak ingin menjadi orok-orokan teman-teman sekelasnya.
Nenek bingung dengan ayah yang tidak lagi sekolah musik, padahal ia sangat berharap mendapatkan beasiswa itu sejak lama.
Kamu tidak sekolah musik lagi, Tin? Tanya nenek.
Males bu, anak-anak orang kaya pada sombong, belajar di rumah juga sama aja. Toh itu piano tetap bisa jalan kan walau gak perlu belajar tambahan lagi..
Ya terserah kamu saja, yang penting kamu jangan lupa sekolah kamu yang utama, sekolah musik itu kan Cuma tambah saja..
Menghabiskan waktu di rumah, ayah ikut membantu itu menjaga toko rotinya.Tanpa ia sangka, Angel muncul di tokonya untuk membeli kue. Ia terkejut melihat ayah yang sudah lama ia cari dan ini adalah pertemuan yang sudah ia nantikan.
ternyata kamu kerja disini ya..?
Enggak kok, ini toko roti ibuku..
Oo.. begitu. Martin, itu kan nama kamu! Tanya ibu.
Iya Martin
Kenapa kamu gak sekolah musik lagi..
Gapapa, aku lagi pengen bantu ibuku saja, kebetulan karyawan lagi pulang kampung..!
Jadi bukan karena kejadian saat itu kan.. Tanya Angel sekedar untuk mengingatkan kejadian tangisnya yang menjadi heboh di sekolah musik.
Bu.. Bukan.. ucap ayah gugup.
Baiklah kalau begitu, aku beli sepuluh roti isi coklat. Tolong dibungkus..
Ayah dengan cepat mengemas roti pesanan ibu dan beberapa saat kemudian sekantung roti penuh pada ibu. Sambil memberikan uang ibu berkata.
Aku minta maaf ya atas kejadian kemarin, aku sedang ada masalah pribadi saja. Kapan-kapan kalau kamu ada waktu, aku akan jelaskan.. ucap ibu.
Gapapa, dengan senang hati aku akan mendengarkan ceritamu.. kata ayah tersipu malu.
ibu pun pergi dari toko dan ayah hanya terdiam bingung. Hatinya senang ketika gadis cantik itu meminta waktunya untuk mendengar ceritanya. Tiba-tiba ibu kembali lagi dan sambil berkata.
Hai, besok di sekolah musik aku akan tampil. Kamu datang ya.. jam 2 siang.. kata ibu kemudian pergi begitu saja.
Ayah benar-benar seperti mabuk kepayang dengan permintaan ibu. Hatinya begitu senang hingga membuat nenek harus mengetuk kepalannya dengan sendok adonan hingga tersadar dari lamunan.
Ibu aku mau lanjutin sekolah musik lagi.. teriak ayah.
Lah, tadi katanya bosen gimana sih!! Sudah jangan aneh-aneh, mandi sana.. biar ibu yang jaga sekarang..
Iya tadi bosen, sekarang sudah enggak, besok aku sekolah lagi. Kata ayah sambil pergi ke dalam ruangan kamarnya sambil menutup kepalanya dengan bantal.
****
Keesokan harinya, ayah benar-benar menepati janjinya untuk melihat penampilan ibu di sekolah musik. Saat itu banyak murid yang tampil sebagai uji kelayakan naik kelas atau level. Ayah tidak terlambat saat ia datang dan ibu sedang berada diatas panggung. Banyak penonton yang begitu terhanyut oleh alunan musik piano klasik yang ibu mainkan. sesekali ibu menolehkan wajahnya ke arah penonton dan berharap ayah ada disana dan akhirnya setelah beberapa kali menoleh ia menemukan ayah yang sedang berdiri karena tidak kebagian kursi.
Setelah musik selesai tepuk tangan ayah terdengar paling nyaring diantara yang lain. Ibu tertawa kecil melihat ayah yang memuji penampilannya. Sejak saat itu keduanya pun menjadi dekat, ibu dan ayah selalu menghabiskan waktu mereka di sekolah musik bersama.Itulah cinta monyet pertama ayah dan ibu, walau mereka tidak pernah menyatakan cinta dan mengatakan mereka berpacaran. Keduanya selalu dekat dan saling menghabiskan waktu bermain musik piano sebagai bentuk jalinan cinta mereka.
Cinta ibu dan ayah tidak selamanya berjalan baik. Empat bulan setelah masa-masa indah itu. Ibu harus melanjutkan pendidikannya ke Amerika Serikat yang disambut ayah dengan penuh kesedihan. Memang jarak cinta dan usia sangat berpangaruh dengan hubungan mereka, ibu yang lulus dari bangku sekolah menengah akhir harus melanjutkan kuliah sedangkan ayah baru saja masuk ke sekolah menengah akhir. Sehingga banyak hal yang akhirnya membuat mereka sulit bersama.
Ayah begitu berat melepaskan ibu dan disaat terakhir pertemuan mereka, mereka menghabiskan waktu dengan bermain piano bersama. Diantara suara alunan piano mereka pun bicara dengan hati yang terluka.
Kalau aku pergi dari sini, apa kamu akan tetap sekolah piano disini? Tanya ibu.
Tidak, aku akan kembali bantu ibu dan fokus pada sekolah umumku..
Kenapa, kamu kan suka piano dan sekolah disini kan tidak pungut biaya untuk kamu..?
Tidak ada kamu disini itu hanya membuatku sulit untuk melupakan kenangan kita.. kata ayah dengan wajah sedih.
Aku mungkin tidak akan kembali.. kata ibu.
Kenapa kamu tidak kembali, padahal aku berjanji untuk menunggu kamu sampai kembali..
Semua tergantung ayahku. Ia yang memutuskan, kalaupun harus kembali itu harus setelah aku selesai kuliah, memangnya kamu sanggup apa? Menunggu sekian tahun..
Aku pasti sanggup..
Ibu hanya tersenyum, ia sedikit lebih dewasa untuk menahan tangis disamping ayah. Dan itulah saat-saat terakhir mereka bersama. Bersama dalam sebuah ruangan piano dan bermain piano bersama. Ibu pun pergi melanjutkan pendidikan kuliahnya di Amerika, ayah memutuskan keluar dari sekolah musik dan fokus pada sekolah pendidikan umumnya. Di hatinya Cuma ada satu hal, ia akan terus menunggu dan menunggu ibu hingga kembali walau tidak akan pernah tau kapan itu terjadi.
5 tahun kemudian..
Ibu kembali dan usianya sudah 23 tahun. Ia mungkin sudah melupakan ayah untuk waktu yang lama dan ayah telah menjadi seorang pemuda tampan berusia 20 tahun. Ia baru saja lulus kuliah dan bekerja pada perusahaan dimana ayah ibu adalah pemiliknya. Mereka bertemu saat itu tidak sengaja mampir ke kantor ayahnya. Saat itu di sebuah sebuah lift, ibu dan ayah saling berpandangan. Ayah tidak akan pernah lupa wajah ibu yang cantik dan begitu pula ibu. Keduanya salah tingkah tapi bahagia dengan pertemuan itu dan keduanya sepakat untuk melanjutkan pertemuan itu dengan makan malam.
Ayah tidak pernah tau kalau perusahaan keuangan yang ia tempati adalah milik ibu. Ia pun tak menyadari kalau ibu akan bekerja ditempat yang sama. Keduanya semakin dekat dan ayah menepati janjinya kepada ibu. Ia tidak pernah memiliki seorang kekasih pun setelah berpisah dengan ibu, berlainan dengan ibu yang sudah memiliki beberapa kekasih dan itu ditunjukkan kepada ayah lewat foto-foto saat ia bersaman mantan kekasihnya di Amerika.
Ayah tidak peduli dengan semua itu, baginya saat ini ia sudah bisa bertemu dengan ibu dan kembali dengan hati yang penuh mencintainya. Ibu pun luluh dan kembali melihat ayah sebagai sosok pria sejati yang layak mendampingi hidupnya. Sayang seribu sayang, kisah cinta ibu dan ayah akhirnya sampai ke telinga ayah ibu. Ayah ibu marah karena tidak sudi melihat ibu berpacaran dengan karyawan rendahannya, ia malu dan gensi dengan hubungan tersebut.
Tanpa sebab, ayah ibu memecat ayah dan itu membuat ibu sangat marah. Ibu pun menyadari bahwa hubungannya telah diketahui ayah. Ia protes kepada ayah.
Kenapa ayah tidak bisa memisahkan masalah pribadi dan perkerjaan, jangan sewenang-wenang memecat Martin, ia tidak memiliki kesalahan dan bekreja dengan baik untuk perusahan kita.
Ia memang bekerja dengan baik tapi menghancurkan impian ayah dengan baik juga terhadap kamu.
Angel sudah besar ayah, Angel tau apa yang pantas Angel lakukan..
Pantas, menurutmu pantas berpacaran dengan seorang karyawan rendahan dan seluruh karyawan disini mempergunjing ayahmu.. dimana letak urat malumu.. memangnya kamu sudah tidak laku sehingga harus pacaran dengan orang rendahan seperti itu.
Martin pria yang baik dan tidak serendah yang ayah pikirkan.. kalau Martin ayah pecat, mulai hari ini, Angel pun angkat kaki dari perusahaan ini.
Sejak saat itu hubungan ibu dan ayahnya menjadi berantakan. Ibu sadar, ayah pasti tau mengapa ia dipecat dari perusahaan. Dengan berbesar hati ia menerima semua keputusan perusahaan dan tidak masalah baginya karena ia bisa bekerja pada perusahaan lain. Hubungan cinta itu terus berjalan tanpa sepengetahuan siapapun hingga 2 tahun kemudian, ibu dan ayah memutuskan untuk melanjutkan hubungan ini ke arah yang serius ketika ibu berusia 25 tahun.
Ayah melamar ibu di depan keluarganya dan langsung mendapatkan hujatan. Melihat tindakan nekad itu, kedua orang tua ibu memutuskan untuk membawa ibu ke Amerika dan membuat cinta ibu dan ayah terpisah. Awalnya semua berjalan dengan baik tapi ibu disaat-saat terakhir berhasil melarikan diri, ia kabur ke rumah ayah dibawah hujan yang besar. Disamping nenek, ibu memohon untuk tinggal bersama ayah.
Nenek yang tidak tega dan lebih berpikir luas akhirnya mengizinkan keduanya tinggal bersama. Cepat atau lambat, orang tua ibu akan mencarinya, keduanya pun memutuskan untuk kabur ke kampung halaman ayah di Semarang. Disana mereka hidup bersama dan akhirnya merayakan pernikahan secara resmi dibawa sedikit saksi-saksi yang dapat membuat sah pernikahan mereka. Ibu kembali dengan surat nikahnya dihadapan orang tuanya bersama ayah.
Dengan wajah penuh emosi, sejak saat itu. Ayah dari ibu berkata.
Mulai saat ini, kamu bukanlah anak ibu, pergi dari rumah ini..
Dengan tangis ibu pergi meninggalkan rumah dan kemewahan miliknya. Sebelum ia pergi, adik kandung satu-satunya memberikan sedikit uang yang ibu dan ayah tolak. Adik ibu memaksa dan berharap uang ini bisa digunakan untuk masa depan keluarga kecil ini karena setelah ini, mungkin mereka tidak akan pernah bertemu lagi karena keluarga besar ibu memutuskan untuk selamanya menetap di Amerika dan meninggalkan semuanya.
Simpanan uang yang diberikan adik ibu akhirnya dijadikan modal ibu dan ayah membangun sebuah keluarga di Semarang kampung ayah. Ibu membuat kursus musik secara pribadi dan ayah berkerja di kantor keuangan.1 tahun kemudian ibu mulai mengandungku, keluarga kecil itu begitu bahagia melengkapi kehidupan barunya, ibu memutuskan untuk berhenti mengajar les piano dan fokus pada bayi kecil yang kelak menjadi aku di masa depan.
Sebulan aku dalam kandungan, ibu mulai tampak telihat aneh. Ia sering merasa sakit dan tubuhnya melemah. Ayah mulai cemas karena ibu tidak seperti ibu hamil lainnya, apalagi nenek juga melihat keanehan karena semakin besar usia kandungan ibu, ia semakin terlihat tidak sehat. Ayah membawa ibu ke dokter dan inilah hal yang paling memilukan terjadi dalam kehidupan mereka. Tanpa mereka sadari, ada hal lain dalam hidup mereka yang tidak bisa disatukan.
Ayah memiliki darah yang bertolak belakang dengan ibu, ayah memiliki rhesus darah positif sedangkan ibu memiliki darah rhesus negatif. Dalam dunia kedokteran kedua darah tersebut tidak diperbolehkan untuk bersama. Pernikahan yang terjadi tanpa pernah melihat apa yang membedakan mereka akhirnya menjadi masalah bagi ibu. Ibu mengandung aku yang memiliki rhesus darah positif milik ayah dan itu membuat tubuh ibu menolak kandungan ibu.
Dan akibat perbedaaan itu, usia kandungan yang semakin besar akan membuat tubuh ibu semakin menderita. Dokter menyarankan ibu untuk mengugurkan kandungan, tapi ibu menolak keras rencana itu, bagi ibu, aku adalah segalanya dalam hidup. Ayah tidak bisa melakukan apapun dan tidak juga menyarankan ibu untuk mengugurkan aku karena ia tau, ibu begitu mencintai aku dan tidak akan pernah mau melakukan tindakan kejam itu. Tindakan ibu yang tegas akhirnya hanya bisa membuat dokter mengikuti kehendaknya tapi ia mengingatkan ibu bahwa ibu akan kapan saja mengalami kondisi maut bila aku dipertahankan
Dengan bertahan diatas kesakitan dan maut yang kapan saja menjemput ibu percaya bahwa Tuhan menciptakan aku dalam hidupnya dengan penuh tujuan. Akhirnya setelah masa-masa penuh derita itu, saat usia kandungan bayi mencapai 7 Bulan, ibu tiba-tiba pingsan tak sadarkan diri. Ayah membawanya ke Dokter untuk dirawat di unit gawat darurat. Saat itu dokter memutuskan untuk mempercepat proses kelahiranku karena kondisi ibu yang sangat kritis bila aku terus bertahan.
Dengan tanpa pernah melihatku saat matanya terbuka, ibu meninggal tanpa pernah sadarkan diri disaat aku benar-benar berhasil di selamatkan oleh dokter.Ayah hanya bisa termenung sedih melihat kepergian ibu yang begitu mendadak. Tapi ia selalu teringat janjinya pada ibu disaat ibu memutuskan untuk bertahan dengan aku didalam tubuhnya.
Anak ini walau orang lain mengatakan tidak pantas untuk dilahirkan, bagiku ia adalah malaikat yang hidup dihatiku, Martin. Kelak ketika ia lahir, berikanlah nama Angel padanya. Karena dokter bilang anak ini berjenis kelamin perempuan..
Kenapa kamu berkata begitu?
Karena aku takut kamu lupa untuk memberikan nama ini. Jadi aku ingatkan..
Tak disangkat ayah, itulah pesan terakhir ibu untuk ayah sebelum ia meninggal. Ayah hanya bisa menangis dan berusaha tegar untuk kedua kalinya ia harus ibu tinggalkan. Dan kini aku mengerti mengapa aku menangis begitu kencang saat aku terlahir ke dunia ini. Karena aku menangis untuk memanggil ibu yang telah pergi untuk mengorbankan jiwanya padaku. Aku menangis karena aku ikut bersedih tidak pernah melihatnya seperti ia tidak pernah bisa melihatku ketika terlahir.

 Nah, Klo' yg 1 ini adalah cerita "Ayah, mengapa aq berbeda?" yg lain postingan sob...check it out! coz ceritax smakin seru... :D
##########################################
Bila semua teman-temanku bernyanyi, aku hanya bisa terdiam. Aku tidak pernah tau harus bagaimana mengatakan pada dunia bertapa aku sangat ingin seperti mereka, bisa mendengar dan bernyanyi layaknya kehidupan normal.
Sayangnya aku terlahir dengan keadaan tuli, lebih sadisnya terkadang mereka orang-orang yang tidak pernah mengerti perasaanku berkata kalau aku “ BUDEK” dan itu dituliskan di kertas untukkku tepat di meja belajarku di kelas.
Tapi aku tidak pernah merasa ingin membalas semuanya, karena aku sadar inilah hidupku dan inilah takdirku.
Dulu semasa kecil mungkin aku tidak pernah merasa beban ini begitu besar dalam hidupku, ketika menyadari aku beranjak remaja dan melihat aku berbeda diantara sahabat-sahabatku. Di depan mading sekolahku tertulis sebuah pengumuman pembentukan tim musik sekolah, aku ingin ikut dalam tim itu tapi sayangnya aku hanya bisa meratapi nasibku. Aku pun pulang untuk bertemu dengan ayah, aku terduduk dengan wajah penuh kesedihan,
Dalam duniaku, hanya ayah yang bisa mengerti apa yang aku katakan. Walaupun itu harus dengan bahasa tangan yang ia pelajari dengan susah payah.
Aku mengetuk pintu untuk memberi tanda aku ada di kamar untuk bicara dengan ayah, ia melihatku dan melempar senyum.
“ Angel, ayo masuk. Silakan duduk disini nak, ada apa? Bagaimana pelajaran kelas kamu hari ini?”
Aku tertunduk, lalu ayah mulai bisa membaca wajahku.
“ Apa yang terjadi nak, ceritakan pada ayah?”
“ Ayah mengapa aku berbeda dari teman-temanku?”
“ Dalam hal?” tanya ayah padaku,
Aku menangis dan usiaku saat itu hanya 12 tahun dan duduk di sekolah menengah pertama.
“ Aku tidak bisa bernyanyi, tidak bisa mendengar.. Mengapa ayah?”
Ayah melihatku sambil tersenyum,
“ Apakah kamu merasa bersedih karena itu?”
“ Ya, aku sangat bersedih.. Aku ingin seperti mereka.. Bisa bernyanyi dan mendengarkan indahnya musik..”
“ Mengapa kamu ingin menjadi seperti mereka?”
“ Karena aku ingin menjadi tim musik sekolah, aku ingin ayah..”
“ Kalau begitu lakukan..”
Aku terdiam tidak bisa membalas pertanyaan ayah kemudian ia bangkit dan mengajakku ke ruangan gudang di belakang rumahku, ia mulai membersihkan debu-debu di sebuah meja panjang yang tadinya kupikir adalah meja makan. Ternyata itu adalah piano klasik. Aku memperhatikanya dengan heran,
“ Ini adalah peninggalan ibumu sebelum ia meninggal setelah melahirkan kamu, ayah sudah tidak pernah mendengarkannya sejak kamu terlahir..”
“ Lalu..?” tanyaku.
“ kamu mungkin terlahir tanpa bisa mendengar dan bernyanyi. Tapi kamu terlahir dari rahim seorang ibu yang berjuang agar kamu ada di dunia ini dan ayah percaya, Tuhan memberikan kamu dalam kehidupan karena kamu memang layak untuk itu.”
“ Tapi aku cacat, tidak normal dan tidak akan pernah bisa mendengar musik? Bagaimana caranya aku bisa seperti teman-temanku.”
“ Sayang kamu memang tidak bisa mendengarkan musik, tapi kamu bisa memainkan musik?”
“ Bagaimana caranya?”
“ Ayah ada disini untuk kamu dan percayalah, musik itu akan terasa indah bila kamu merasakannya dari hati kamu. “
“ Walaupun aku tidak bisa mendengar..”
Ayah duduk dikursi dan menyuruhku memperhatikannya bermain piano, Ia menutup matanya lalu memainkan arunan toth piano itu.
“ Anakku, rasakanlah musik itu dalam hati dan kamu akan tau bertapa Tuhan sangat mencintai siapapun makluk yang ia ciptakan. Walaupun kamu terlahir dengan keadaan cacat dan tidak bisa mendengarkan suara musik itu dari telinga kamu.. Kamu bisa dengarkan lewatkan hati kamu..”
Ayah mengajakku untuk menyentuh setiap toth piano dan kami bermain bersama, aku memang tidak bisa merasakan apa suara music itu tapi aku bisa merasakan nada dari jari yang ketekan dan itu membuatku bersemangat untuk berlatih piano klasik, aku tau ibuku adalah seorang pemain piano sebelum ia meninggal saat melahirkanku. Aku pun berjuang untuk bermain musik dan perlahan aku mampu membuat sedikit alunan music yang indah. Semua itu kurasakan dalam hatiku, semua itu kurasakan dalam jiwaku.
Beberapa minggu kemudian, aku mulai berani mendaftar dalam tim musik sekolahku dan guruku menerimaku walaupun ia tau aku cacat tapi setelah aku mainkan piano dan ia terkesan. Aku tau semua orang melihatku dengan aneh, seorang teman bernama Agnes datang padaku.
“ Hai orang cacat, apa yang bisa kamu lakukan dengan telingamu yang tertutup kotoran?”
Yang lain tertawa dan menambah kalimat yang melukai hatiku,
“ Dia mungkin mau jadi badut diantara tim kita, biarkan saja..”
Ejekan itu berakhir saat guruku datang, mereka semua kembali ke posisi mereka masing dalam alat music yang mereka kuasai. Ibu guru pembimbing kelas musik bersikap hangat padaku, ia memperkenalkanku pada semuanya.
“ Anak-anak mulai hari ini Angel akan bergabung dalam tim kita, semoga kalian bisa berkerja sama dengan Angel ya..”
“ Ibu apa yang bisa lakukan untuk tim kita, dia kan budek?” ejek Agnes.
“ Agnes!! ibu tidak pernah mengajarkan kamu untuk menghina orang lain, jaga sikap kamu. Walaupun Angel cacat secara fisik ia juga memiliki perasaan, tolong kendalikan kata-kata kamu.”
Aku senang ibu membelaku tapi itu malah membuat semua membenciku, ibu mempersilakan aku memainkan piano, dengan gugup aku bisa bermain dengan baik. Tidak ada satupun tepuk tangan dari teman-temanku, hanya ibu guru seorang. Ketika kelas bubar aku mendekat pada ibu guru, aku menuliskan apa yang ingin aku katakan kepadanya, Ia membacanya.
“ Ibu , aku mundur saja dari tim, aku tidak mungkin bisa menjadi bagian dari mereka. Karena aku ini cacat. Mereka tidak akan menerimaku?”
“ Tidak sayang, jangan berkata demikian, kamu special, kamu berbakat, mereka hanya belum terbiasa, percayalah kalau kamu sudah sering bermain dengan mereka. Kamu akan diterima dengan suka cita. Jadi ibu tidak mau mendengarkan kalimat kamu ingin mundur..”
“ Tapi bu, aku takut bila membuat semua jadi kacau.”
“ Anakku, beberapa minggu lagi, sekolah ini akan merayakan hari ulang tahunnya, ibu percaya kamulah satu-satunya orang yang layak mengisi tempat di bagian piano, karena teman kamu Rika ( pianis sebelumnya) telah mundur karena sakit cacar”
Aku pulang ke rumah dan memberi kabar kalau aku diterima dalam tim musik sekolah, ayah begitu gembira menunggu saat-saat aku akan berada dipanggung, ia terus melatih permainan pianoku. Aku tidak pernah cerita bertapa aku sangat diremehkan oleh teman-teman se-timku yang hanya menganggap aku sampah yang tidak layak disamping mereka. Mereka sering memarahi aku dengan kata-kata kasar lalu mereka menghinaku sebagai gadis caca, hal itu terus terjadi disaat kami berlatih persiapan untuk panggung sekolah . Mereka tidak pernah peduli apa yang kumainkan bila benar, mereka selalu bilang salah. Padahal aku yakin aku benar-benar memainkan musik piano ini, sedihnya saat aku bertanya dimana letak kesalahanku yang mereka jawab lebih menyakitkan.
“ Kamu ini tuli dan budek, bagaimana bisa kamu tau alunan musik yang kamu mainkan itu benar atau salah? Kamu membuat aku muak dengan sikap kamu yang sok pintar dan mencari muka di depan bu guru.” Kata Agnes padaku.
Aku menangis mendengarkan kalimat itu, aku berlari pulang ke rumah dan satu-satunya kalimat yang kudengar hanya satu. “ Pergi kamu gadis cacat, jangan pernah kembali ke tim kami, kami tidak sudi menerima kamu dalam kelompok ini.”
Aku menangis hingga di depan rumahku dan ketika aku tiba di gerbang rumahku, sebuah mobil ambulan ada didepan rumahku dan membawa ayah. Aku mengejar perawat yang membawa ayah, ayahku tampak tertidur tanpa bicara, seorang tetanggaku berkata padaku.
“ Ayahmu terkena serangan jantung, kamu ikut tante saja. Kita pergi bersama-sama ke rumah sakit.”
Aku shock dan menangis! Bagaimana hidupku tanpa ayah? Sepanjang perjalanan aku terus menitihkan air mata. Ayah tidak sadarkan diri sejak sakit jantungnya kambuh, ia memang memiliki sakit jantung sejak menikah padahal usianya masih sangat muda. tiga hari lamanya aku menemani ayah yang tidak pernah sadarkan diri. Tiga hari pula aku tidak pernah ke sekolah, bu guru bertanya pada Agnes mengapa aku tidak masuk hari ini?”
“ Mungkin Angel merasa tidak sanggup lagi bergabung dengan tim kita, dia itu bodoh bu! Selalu melakukan kesalahan dan dia pergi begitu saja saat latihan dan tidak pernah kembali hingga saat ini.”
Ibu guru mencoba pergi ke rumahku, tapi tidak ada seorang pun orang dirumahku. Aku tau beberapa hari lagi perayaaan musik di sekolahku akan dimulai. Mungkin memang sudah menjadi garis tangan hidupku, aku tidak boleh menjadi tim sekolah. Padahal aku sudah berjuang maksimal berlatih piano di rumah. Tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa selain menjaga ayahku karena ia lebih penting dalam hidupku, ia satu-satunya sahabatku yang bisa mengerti keadaan ku setelah ibu meninggal dunia.
Ya Tuhan jangan ambil ayahku, doaku setiap saat kepadanya
Seminggu kemudian,
Ayah tersadar dan melihat aku disampingnya. Ia tidak bisa bicara banyak, selain bertanya mengapa aku disini, mengapa aku tidak berlatih bersama tim musik disekolahku, aku berpura-pura berkata padanya kalau mereka memberikan aku izin menjaga ayah. Ayah marah padaku, ia bilang aku harus segera latihan dan ia ingin aku tampil disana.
“ Jangan pedulikan ayah saat ini, yang penting kamu harus bisa buktikan kepada semua orang kalau kamu bisa bermain musik dan tunjukkan kepada mereka kamu gadis yang sempurna ”
Aku tau itu berat, tapi aku tidak ingin ayah bersedih mendengar penolakkan sahabatku di sekolah, ia berjanji padaku akan lekas sembuh asal aku terus bersemangat latihan musik. Akhirnya aku pun pergi ke sekolah kembali dan masuk ke kelas musik. Ibu guru menyambutku dengan baik, dan langsung memintaku berlatih. Setelah ia pergi, Agnes dan kawan-kawan mendekatiku, mereka mendorongku hingga terjatuh.
“ Kamu itu makluk Tuhan paling menjijikan, jangan membuat tim kami malu dengan kehadiran kamu di tim music kami. tidak punya malu, padahal kami sudah mengusirmu..”
Aku terdiam, seorang teman mengatakan pada Agnes,
“ Percuma dia tuli, dia ga akan mendengarkan apa yang kita bicarakan.”
Agnes marah merasa aku tidak mendengarkan semua kemarahannya, Ia bersama teman-teman mendorongku hingga keluar ruangan, aku mengetuk pintu dan ketika tanganku berusaha membuka pintu, mereka menjepit tanganku tanpa ampun, aku berteriak kesakitan dan mereka tidak peduli
“ Astaga dia bisa menjerit juga ya.. kirain dia itu bisu, bisa teriak juga hahaha “ ledek mereka.
Mereka menyiksaku dan aku tidak berdaya. Tanganku terasa mati rasa, mungkin jariku patah. Aku meminta tetanggaku untuk membalut luka ini dan ia sangat terkejut dengan keadaanku. Aku berkata padanya aku terjatuh di jalan. Tapi aku tidak akan pernah menyerah untuk menjadi tim musik kelasku. Hingga hari itu tiba, dengan luka balut tanganku aku muncul di sekolah. Sebelumnya aku mengatakan pada ayah .
“ Ayah hari ini aku akan bermain musik dihadapan semua orang, ayah harus mendengarkan ya. “
“ Anakku, ayah pasti mendengarkan. Maaf saat ini ayah sedang sakit, ini adalah hari istemewamu. Tapi ayah sudah pikirkan bagaimana caranya. Ambil telepon genggam ayah dan biarkan itu menyala saat kamu mainkan.”
“ Baik ayah.” Aku menuruti ide cermerlang ayah.
Saat aku keluar ruangan, dokter mengatakan hal kecil disamping ayah “ Jantung anda melemah, anda harus terus berpikir positif sehingga cepat sembuh”
“ Anak saya akan manggung hari ini, itu membuat saya cemas”
“ Percayalah , anak anda adalah gadis luar biasa..”
Aku menangis menuju sekolahku, Saat aku tiba di sekolah, Agnes dan kawan-kawan melihatku dengan jijik. Sepertinya mereka tidak mau aku di panggung, mereka manarik bajuku dan menamparku di belakang panggung.
“ Pergi cepat, jangan pernah ada disini, kami akan tampil tanpa kamu. Cepat pergi? Sebelum ibu guru datang”
Tidak, aku tidak akan menyerah walaupun mereka menyiksaku. Aku sudah berjanji pada ayah untuk bermain musik di acara sekolah. Karena mereka mendapatkan aku tidak menyerah, akhirnya mereka mengancam tidak akan tampil dan memaksa aku tampil seorang diri, mereka ingin membuatku malu.
“ Baiklah, kami tidak akan tampil. Dan silakan kamu tampil sendirian, jadilah badut diatas panggung..”
Aku tidak mampu berbuat apa-apa ketika mereka mengikat rambutku layaknya orang bodoh, memoles mukaku dengan cat warna merah menyerupai badut sirkus. Aku tidak peduli, aku hanya ingin ayah bahagia dan menepati janji kepada ayah untuk tampil dalam panggung itu. Setelah puas mendandaniku seperti badut mereka pergi mendorong aku diatas panggung saat ibu guru yang bertugas menjadi pembaca acara memanggil tim kami dan aku muncul sendirian, mereka semua berlarian mengumpat.
“ DImana yang lain?” tanya ibu guru,
Aku terdiam, semua orang yang ada di bangku penonton menertawakan aku, mereka melihat badut yang sedang berada diatas panggung, aku sungguh tidak bisa berbuat-apa ap.
“ Astaga apa yang terjadi padamu dan yang lain pergi kemana? Kita tidak akan bisa menjalankan acara music ini.”
Aku mengambil kertas dan menuliskannya
“ Bu, izinkanlah aku bermain piano ini, aku sudah berjanji pada ayah untuk bermain piano , ia sedang terbaring lemas di rumah sakit, jantungnya melemah hari ini, aku takut ia akan semakin buruk bila tau aku gagal bermain bersama tim musik di sekolah”
Ibu menatapku, ia sadar bertapa aku sangat sulit.
“ Baiklah mainkanlah piano ini, tunjukkan pada dunia kalau kamu adalah orang special dengan musikmu”
“ Terima kasih bu.”
Ibu guru memberikan kata-kata sambutan kepada penonton yang terus tertawa karena melihat badut sepertiku, tapi aku tidak peduli. Dengan keunggulan 3g, aku mengadakan video call dan ayah tersenyum padaku memberikan semangat, keletakkan telepon itu diatas meja piano.
“Tuhan bimbing aku agar semua berjalan dengan baik. Dan dengarkanlah musik ini..”
Setiap denting musik mulai memecahkan semua tawa yang awalnya menghujatku, menghinaku, arunan musik ini membawa perjalanan kisahku untuk berjuang menunjukkan pada dunia, aku memang terlahir cacat, aku tidak pernah tau apa artinya musik, tidak tau bagaimana suara burung, suara ayah bahkan tragisnya aku tidak pernah tau suara yang keluar dari mulutku sendiri.
Tapi aku percaya, aku tercipta bukan tanpa tujuan dalam dunia ini. ketika lagu itu usai kumainkan, semua berdiri dan memberikan tepuk tangan, aku menangis. ibu guru memelukku, aku ingin ibu menyampaikan pesanku kepada penonton.
“ Terima kasih, memberikan aku kesempatan untuk berada ditempat ini. Kini aku tau mengapa aku berbeda, karena Tuhan mencintaiku. Aku tidak akan marah pada Agnes dan teman-teman, aku bersyukur karena mereka mengajarkan aku tentang ketekunan dan ikhlas. Termasuk ayah, yang selalu bilang padaku “ kita tidak perlu merasa sedih dengan keadaan kita, bagaimanapun bentuknya. Karena Tuhan memberikan kita nafas kehidupan dengan tujuan hidup masing-masing”
Ya aku percaya itu.


Tidak ada komentar: